oleh

Perpres Diteken Presiden , Sah Pintu Investasi Miras Dibuka

 

Jakarta -Presiden RI , Joko Widodo (Jokowi) mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Dalam kebijakan itu salah satunya diatur mengenai investasi minuman beralkohol atau minuman keras (miras).

Melalui kebijakan itu pemerintah membuka pintu untuk investor baru baik lokal maupun asing untuk minuman beralkohol di 4 provinsi yakni Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, dan Papua. Seperti apakah kebijakan ini? akankah memberikan pengaruh terhadap ekonomi nasional?

Peneliti dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy menilai pengaruhnya akan sangat kecil terhadap ekonomi, khususnya untuk 4 provinsi itu sendiri.

“Saya belum menemukan pengaruh investasi minuman beralkohol ke daerah yang dimaksud. Daerah-daerah yang dimaksud lebih banyak ekonominya didorong bukan kepada industri minuman beralkohol tetapi kepada sektor lain,” tuturnya kepada lahanberita.com, Minggu (28/2/2021).

Yusuf mencontohkan daerah Papua, provinsi paling timur itu menurutnya lebih banyak didorong oleh industri pertambangan. Namun sebaliknya di Bali selain didukung pariwisata bisa juga ditunjang oleh tempat – tempat hiburan yang memang menyediakan minuman keras.

Namun menurut Yusuf kebijakan ini bisa saja memancing penolakan dari berbagai pihak. Dengan begitu potensi resistensi dari kebijakan investasi miras ini cukup besar.

situs bandar judi slot online

“Sehingga pada muaranya akan berdampak pada minat investor nantinya,” tambahnya.

Sementara Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai justru kebijakan itu membuat wajah Indonesia di mata investor asing khususnya dari negara muslim kurang bagus.

“Banyak sektor yang bisa dikembangkan ketimbang industri miras. Kalau hanya memikirkan dampak ke tenaga kerja, masih ada sektor pertanian dan pengembangan agro industri yang perlu dipacu lebih,” terangnya.

Menurut Bhima dengan dibukanya investasi minuman beralkohol akan berdampak buruk juga secara jangka panjang. Selain kesehatan, berpotensi menimbulkan gejolak sosial. Dimana pandangan terhadap minuman seperti ini masih negatif di mata masyarakat.

“Apalagi kalau produk miras nya ditawarkan ke pasar dalam negeri. Ini bisa menjadi buah simalakama , karena kita harus memikirkan generasi muda Indonesia. Sebaiknya aturan ini direvisi lagi dengan pertimbangan dampak negatif dalam jangka panjang. Ini bukan sekedar pertimbangan moral tapi juga kerugian ekonomi dari sisi kesehatan,” tutupnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed