oleh

Pencucian Uang Sudah Biasa, Sekarang Bahkan Ada Pencucian Emas, Apa Itu?

 

LAHANBERITA – Ada dugaan praktik penggelapan impor emas dari Singapura yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Utama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hal ini seperti diungkapkan oleh Anggota Komisi III DPR RI, Arteria Dahlan saat raker dengan Kejaksaan Agung.

Menanggapi hal tersebut, Badan Pusat Statistik (BPS) saat ini tidak mengetahui hal tersebut. Menurut dia, data impor yang diterima BPS memang berasal dari Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan saat ini data HS mereka dapatkan hampir 200-300 ribu. “Kalau kemudian HS tidak sesuai, saya tidak tahu, karena dokumen yang kita dapatkan dari Direktorat Jenderal Bea Cukai,” kata dia dalam konferensi pers, Selasa (15/6/2021).

Anggota Komisi III DPR RI Sarifuddin Sudding mengungkapkan adanya praktek pencucian emas ilegal yang terjadi di lapangan.
“Ada modus  baru, jadi kalau selama ini kita mendengar adanya money laundry atau pencucian uang tapi sekarang ini ada yang namanya pencucian emas,” ujar Sarifuddin Sudding di Gedung DPR RI, Senin (14/6/2021)
“Terjadi di pertambangan-pertambangan emas illegal tapi sengaja dilegalkan. Jadi sekan-akan ada perusahaan yang melakukan kegiatan impor tapi ternyata itu sama sekali tidak tercatat, seakan-akan itu legal padahal tidak,” kata Sarifuddin Sudding.

 

Lebih lanjut Sarifuddin bahkan menuturkan ada 8 perusahaan yang terindikasi pencucian emas.
“Ada 8 perusahaan terindikasi pencucian emas, 8 perusahaan terindikasi melakukan pencucian emas dari penambang-penambang liar dengan potensi kerugian negara 293 miliar ini. Nah saya minta supaya ini ditindaklanjuti,” tegas Sarifuddin Sudding.

 

ST. Burhanuddin yang hadir secara langsung di Komisi III, Gedung Nusantara II, Senayan Jakarta (14/6/2021) menyampaikan dirinya fokus terhadap penyelamatan uang negara termasuk dari oknum mafia-mafia tambang yang ada di lapangan.
“Kami ini punya program untuk menyelamatkan uang masuk ke negara (penerimaan negara). Terkait yang bapak sampaikan syukur-syukur kami punya data lengkap untuk 8 perusahaan itu,” lugas Burhanuddin.
“Mafia-mafia pertambangan memang kita sedang mulai menindaknya dan mohon dukungannya. Ada penerimaan negara yang perlu kami selamatkan,” ujar Burhanuddin.
Disisi lain Anggota Komisi III Arteria Dahlan menuturkan data emas mengalami perubahan  saat masuk ke Bandara Soekarno Hatta.
Emas yang awalnya dikirim dari Singapura dalam bentuk setengah jadi dan berlabel, diubah menjadi emas bongkahan sehingga emas impor itu tidak dikenakan pajak ketika masuk di Bandara Soetta.

Suhariyanto menjelaskan lebih tepat menyampaikan pertanyaan ke Direktorat Jenderal Bea Cukai. “Intinya data BPS berasal dari sana, kita lakukan cleaning dari sisi kuantitas dan jumlah,” tambah dia.

situs bandar judi slot online

Sebelumnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menampik laporan adanya skandal impor emas senilai Rp 47,1 triliun di Bandara Soekarno-Hatta.

Direktur Kepabeanan Internasional dan Antar Lembaga Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Syarif Hidayat menyatakan pihaknya sudah mengecek dugaan skandal impor emas. Dia menjamin semua hal sudah sesuai aturan, dugaan skandal itu disebut tidak benar.

“Tidak benar ada skandal begitu. Importasi emas biasa memang masuk di Cengkareng, tapi proses penetapannya, prosesnya semua ini, kami jamin tidak ada skandal sama sekali. Kami sudah cek dan analisis juga, intinya semua sesuai prosedur. Skandal itu tidak ada ya,” ungkap Syarif kepada detikcom, Senin.

Laporan Arteria sendiri mengungkapkan ada indikasi perbuatan manipulasi atau pemalsuan produk emas ketika masuk di Bandara Soetta, yang membuat emas itu tidak dikenakan biaya pajak. Penyelewengan yang dimaksud itu yakni adanya perubahan data emas ketika masuk di Bandara Soetta.

Emas yang semula dikirim dari Singapura berbentuk setengah jadi dan berlabel, namun ketika sampai di Bandara Soetta emas itu diubah lebel menjadi produk emas bongkahan yang merupakan produk mentah, sehingga tidak dikenakan pajak ketika masuk di Bandara Soetta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed