oleh

Melinda Harus Melewati Pagar Berduri Untuk Keluar Rumah, Karena Akses Rumah Di Tembok Beton

lahanberita, TANGERANG — Satu keluarga besar di Ciledug, Tangerang, Banten tak bisa pergi ke mana-mana.

Pasalnya rumah mereka kini terhalang oleh tembok beton yang menghalangi akses dari rumahnya menuju ke luar.

Mereka terkurung sejak Ruli membangun tembok yang menghalangi akses dari rumahnya menuju ke luar.

Melinda dan keluarga besarnya tak pernah mengira bakal mengalami nasib malang seperti sekarang ini.

Rumahnya yang berlokasi di RT 04 / RW 03 Jalan Akasia, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang dipagar tembok beton hingga menutupi akses jalan.

Pembuat pagar beton bernama Ruli mengklaim bahwa itu merupakan lahan miliknya.

Dinding tembok tersebut setinggi lebih dari 2 meter dan dipasangi kawat.

Bahkan keluarga Melinda sempat dilakukan oleh intimidasi oleh Ruli.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Kapolsek Ciledug, Kompol Wisnu.

“Terkait kasus pengancaman,” ujar Wisnu kepada Warta Kota, Minggu (14/3/2021).

Menurutnya pihak keluarga korban telah melaporkan perihal ini kepada polisi.

Dan saat ini polisi tengah menindak lanjuti laporan tersebut.

“Untuk laporan ke kepolisian sementara berproses,” ucapnya.

Wisnu menyebut jajarannya sudah melakukan pemeriksaan. Keterangan dari keluarga korban telah digali keterangan.

“Kemarin sudah dimintai keterangan oleh penyidik dari pihak pelapor,” kata Wisnu.

“Kami sudah mencoba meminta keterangan dari pihak Ruli ini, tapi tidak datang-datang. Ruli ini mengancam korban menggunakan golok selain memagari rumahnya dengan tembok beton,” ungkapnya.

Minta Bantuan Pemkot Tangerang

Melinda, warga beralamatkan di RT 04 / RW 03 Jalan Akasia, Kelurahan Tajur, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang rumahnya dipagari beton.

Ia beserta keluarga besarnya berharap ada bantuan dari pihak Pemkot Tangerang.

Hal ini disampaikan oleh kuasa hukumnya yakni Yasin. Yasin menceritakan mengenai ikhwal kejadian ini.

“Awalnya itu keluarga besar di sini atas nama Pak Munir membeli lahan dari orang tua Ruli,” ujar Yasin kepada Warta Kota saat dijumpai di Ciledug, Kota Tangerang, Minggu (14/3/2021).

Kejadian itu berlangsung pada lima tahun silam.

Munir pun sudah meninggal dan mewarisi ke anak-anaknya lahan tersebut.

“Namun, Ruli mengklaim bahwa sebagian lahan di depan rumah keluarga Munir adalah miliknya,” ucapnya.

Lalu Ruli membangun pagar beton di rumah yang kini ditempati oleh Melinda.

situs bandar judi slot online

Bahkan beton setinggi dua meter ini dipagari kawat.

Sehingga tidak ada akses jalan, Melinda beserta sekeluarga pun terkurung di dalamnya.

“Jadi kalau mau keluar harus manjat dulu. Kami sudah meminta mediasi kepada Ruli, tapi tidak ada tanggapan. Kami meminta dari jajaran Pemerintah Kota Tangerang membantu dalam persoalan ini,” kata Yasin.

Beton setinggi lebih dari dua meter berada di depan kediaman Melinda. Bahkan pagar beton ini dipasangi kawat.

Sulit jika melewati akses tersebut.

Tak ada jalan keluar dan Melinda beserta keluar terkurung di dalamnya.

“Susah lewat, makanya ditaruh bangku – bangku untuk naik,” ujar Melinda.

Melinda pun hanya bisa pasrah.

Pemasang pagar beton itu yakni Ruli yang mengklaim bahwa lahan tersebut miliknya.

“Kasihan anak-anak masih kecil, kalau keluar harus manjat,” ucapnya.

Lebih parah lagi jika turun hujan. Kondisi licin dan dekat kabel listrik berada di atasnya.

“Badan pada lecet-lecet, jatuh juga. Kalau malam hari juga ngeri,” kata Melinda tampak sedih.

Sementara itu, Kholid datang melihat kondisi sanak saudaranya yang rumahnya terkurung tembok beton di Ciledug, Kota Tangerang pada Minggu (14/3/2021).

Ia bersama sang istri yakni Mulyani.

Mulyani merupakan adik dari Munir pemilik lahan tersebut.

Munir telah meninggal belum lama ini.

Di rumah itu ada sekitar 7 orang. Melinda, suaminya, tiga orang anaknya, dan orang tua.

Saat memasuki rumah tersebut, Kholid dan Mulyani kesulitan. Pasalnya rumah saudaranya itu dipagari beton.

Dinding beton setinggi lebih dari dua meter. Panjangnya hingga 180 meter.

Di atasnya dipasangi kawat. Sehingga harus memanjat untuk masuk ke rumah Melinda.

“Ada cucu-cucu saya yang masih kecil di sini. Mereka tidak tau apa-apa, kenapa jadi korban,” ujar Kholid tampak menangis saat dijumpai di Ciledug, Kota Tangerang, Minggu (14/3/2021).

Kholid menjelaskan, awalnya Munir membeli lahan ini pada lima tahun yang lalu. Munir membelinya kepada orang tua Ruli.

“Ruli ini yang bangun pager di depan rumah. Dia ngakunya itu lahan dia,” ucapnya.

Kholid pun tak kuasa menahan sedih. Ia dari Cengkareng menyempatkan datang untuk melihat kondisi saudaranya itu.

“Saya berharap semoga ini cepat berakhir. Kalau ini terus menerus yang jadi korban ya anak-anak,” kata Kholid.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed