oleh

Crypto jadi “CRY”pto ! Ini Akibat di Balik Larang China Terhadapa Mata Uang Sensasional itu

Fakta di Balik Larangan China Terhadap Mata Uang Crypto

LAHANBERITA – Pemerintah China resmi melarang lembaga keuangan dan perusahaan pembayaran menyediakan layanan terkait transaksi mata uang crypto. Alhasil, uang digital itu tak boleh lagi menjadi alat transaksi di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Terkait hal itu, tim LAHANBERITA  telah merangkum beberapa fakta, Minggu (23/5/2021).

1. Dinilai Mengggangu Tatanan Ekonomi

Tiga kelompok industri di China untuk menekan transaksi digital yang sedang berkembang.

Tiga kelompok industri itu, yakni Asosiasi Keuangan Internet Nasional China, Asosiasi Perbankan China, serta Asosiasi Pembayaran dan Kliring China.

“Baru-baru ini, harga mata uang crypto telah meroket dan anjlok, dan perdagangan spekulatif mata uang crypto telah pulih. Secara serius ini melanggar keamanan properti dan mengganggu tatanan ekonomi serta keuangan yang normal,” kata tiga kelompok industri tersebut dikutip dari lahanberita, Rabu (19/5/2021).

2. Investor Diminta Tak Lakukan Transaksi yang Spekulatif

Selain itu, investor juga diperingatkan supaya tidak melakukan transaksi spekulatif terhadap mata uang tersebut. Ini adalah upaya terbaru dari tiga kelompok industri di China untuk menekan transaksi digital yang sedang berkembang.

3. Bank dan Saluran Pembayaran Online Tak Boleh Melayani Transaksi Mata Uang Crypto

Dengan larangan tersebut, maka bank maupun saluran pembayaran online tidak boleh menawarkan kepada kliennya bentuk layanan apapun yang melibatkan mata uang crypto, seperti pendaftaran, perdagangan, kliring, dan settlement.

4. Individu Tidak Dilarang Memegang Mata Uang Crypto

Selain itu, mereka juga dilarang menyediakan layanan tabungan, penjaminan atau mengeluarkan produk keuangan yang terkait dengan mata uang crypto. Namun, individu tidak dilarang memegang mata uang tersebut.

5. Ini Alasan China Melarang Mata Uang Crypto

Mereka juga menyoroti risiko perdagangan mata uang crypto. Menurut Bank Rakyat China, mata uang virtual tidak didukung oleh nilai riil, nilainya mudah dimanipulasi, dan kontrak perdagangan tidak dilindungi oleh regulasi di China.

6. Sebelumnya China Juga Pernah Mengeluarkan Kebijakan Serupa

Ini bukan langkah pertama yang dilakukan China menentang mata uang digital. Pada 2017 lalu, China menutup bursa mata uang crypto lokal, menutup pasar spekulatif yang menyumbang 90 persen perdagangan bitcoin secara global.

situs bandar judi slot online

Pada Juni 2019, Bank Rakyat China mengeluarkan pernyataan akan memblokir akses ke semua transkasi mata uang crypto domestik dan asing serta situs web Penawaran Koin Perdana. Tujuannya untuk menekan semua perdagangan mata uang crypto dengan larangan penukaran mata uang asing. (TYO)

Harga bitcoin terpeleset ke posisi US$40.728 per koin atau setara Rp582 juta (kurs Rp14.290 per dolar AS). Harga mata uang kripto tersebut jatuh setelah China dengan tegas melarang lembaga keuangan di negaranya melayani transaksi cryptocurrency.

Melansir CNN Business, Rabu (19/5), level harga tersebut merupakan yang terendah sejak Februari 2021. Secara total, harga bitcoin sudah anjlok 36 persen setelah sempat mencetak rekor tertinggi US$63.347 per koin atau sekitar Rp905 juta pada April lalu.

Harga bitcoin sebenarnya sudah mulai turun sejak CEO Tesla Elon Musk mengaku waspada dengan dampak lingkungan dari investasi mata uang kripto. Namun, kejayaan mata uang kripto paling populer itu langsung meredup ketika tiga grup industri keuangan China mengeluarkan larangan soal transaksi kripto.

Aturan Baru

Hari ini tiga regulator keuangan China menerbitkan aturan yang melarang lembaga keuangan dan fintech pembayaran untuk memfasilitasi transaksi uang kripto.

Lembaga keuangan dan fintech dilarang menyediakan layanan pendaftaran, perdagangan, kliring, settelement, penukaran uang hingga layanan trust. Institusi pun dilarang untuk menyediakan produk penyimpanan hingga produk keuangan terkait cryptocurrency.

Selain itu layanan informasi terkait kripto, asuransi dan perdagangan derivatif juga masuk dalam larangan. Institusi keuangan dan fintech juga diminta meningkatkan pemantauan aliran uang yang ada dalam perdagangan cryptocurrency.

Aturan Awal Soal Kripto

China tidak mengakui cryptocurrency sebagai alat pembayaran sah dan sistem perbankan juga tidak menerimanya atau menyediakan layanan relevan.

Sebelumnya tahun 2014, pemerintah mendefinisikan Bitcoin sebagai komoditas virtual. Dikatakan juga individual boleh berpatisipasi dalam perdagangan online secara bebas.

Namun akhir tahun itu, keputusan berubah. Regulator keuangan termasuk bank sentral (PBoC) melarang bank dan perusahaan pembayaran untuk menyediakan layanan terkait Bitcoin.

Lalu September 2017 China juga memblokir Initial Coin Offerings atau ICOs, ini sebagai upaya melindungi investor dan mengendalikan resiko dalam keuangan. Aturan itu juga melarang platform perdagangan mata uang kripto untuk mengubah alat pembayaran sah menjadi uang kripto, begitu juga sebaliknya. Akhirnya, sebagian besar platform tutup karena pembatasan tersebut.

Aturan ICO juga melarang perusahaan keuangan dan fintech pembayaran untuk menyediakan layanan ICOs dan cryptocurrency. Termasuk juga membuka akun, registrasi, perdagangan, kliring atau layanan likuidasi.

Juli 2018, PBOC mengatakan ada 88 platform perdagangan mata uang kripto dan 85 platform ICO ditutup.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed