oleh

BREAKING NEWS: Putri Sulung Jenderal A.H Nasution Wafat

JAKARTA, lahanberita.com– Kabar duka datang dari keluarga besar Jenderal Abdul Haris (AH) Nasution, Mantan Menhankam RI dan Ketua MPR RI Ke-2. Sang putri sulung Jenderal yakni Hendrianti Saharah atau akrab disapa Yanti Nasution dikabarkan meninggal dunia.
“INNAALILLAAHI WA INNAAILLAIHI ROJIUUN..
Turut berduka cita yang sedalam – dalamnya nya atas wafatnya Yanti Nasution binti Jend.A.H.Nasution.

 

Semoga almarhumah diampuni dosa-dosanya, diterima semua amal ibadahnya.
Ditempatkan di sisi Allah SWT.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan menghadapi musibah ini.
Amiin YRA..”
Begitu pesan singkat yang diterima redaksi Kilat.com, Jumat (18/6/2021) petang.
Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih mencoba menghubungi pihak keluarga besar Jenderal (Purn) AH Nasution.

 

Hendrianti Sahara Nasution tercatat juga menjadi korban keganasan G30S/PKI. Bahkan, ia harus menangggung luka semasa hidupnya. Saat mencoba bersembunyi untuk menyelamatkan diri dari kebiadaban pasukan Tjakrabirawa, pinggulnya patah karena gagal melompati jendela.
Dia sempat menjalani operasi penyelamatan pinggul sebelah kanan. Dokter yang memeriksanya menyebutkan ikatan tulang paha kanan sudah tak sempurna. Namun jika operasi diteruskan dokter itu khawatir lukanya malah tak bisa sembuh sehingga kemudian dibiarkan. Akibatnya, rasa nyeri setiap kali berjalan tak sirna. Jalannya pun selalu pincang. Operasi kaki baru ia jalani pada 2004. Tulang bagian kakinya disangga dengan besi.

 

Namun pembiaran selama bertahun-tahun tersebut membuat beban kaki tak seimbang. Sakit sudah menjalar hingga kaki sebelah kiri. Kini ia harus banyak mengistirahatkan kakinya.
Hendriati tergolong wanita tegar. Ia menghadapi kematian adiknya, Ade Irma Suryani dengan tabah. Pada masa Orde Baru dia pun ikut terkena imbas ketika orang tuanya dikucilkan penguasa. Meski anak Jenderal yang dikenal sangat anti PKI, Hendriati harus ikut screening anti PKI pada 1980-an. Screening ini dilakukan ketika ia membuka usaha kecil-kecilan sebagai distributor berbagai minuman ringan ke warung-warung. Pendaftaran perusahaan mewajibkan pendiri perusahaan untuk ikut interogasi di depan aparat.

Jenderal Besar TNI (Purn.) Dr. (H.C.) Abdul Haris Nasution (lahir di Kotanopan, Sumatra Utara, 3 Desember 1918 – meninggal di Jakarta, 6 September 2000 pada umur 81 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah satu tokoh TNI AD yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September. Selamat dari upaya penculikan tersebut namun Nasution harus kehilangan putrinya Ade Irma Suryani Nasution beserta ajudannya, Lettu Pierre Tendean.

Nasution merupakan konseptor Dwifungsi ABRI yang disampaikan pada tahun 1958 yang kemudian diadopsi selama pemerintahan Soeharto. Konsep dasar yang ditawarkan tersebut merupakan jalan agar ABRI tidak harus berada di bawah kendali sipil, tetapi pada saat yang sama tidak boleh mendominasi sehingga menjadi sebuah kediktatoran militer.

situs bandar judi slot online

Bersama Soeharto dan Soedirman, Nasution menerima pangkat kehormatan Jenderal Besar yang dianugerahkan pada tanggal 5 Oktober 1997, saat ulang tahun ABRI.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed