oleh

Badai COVID-19 India Menggila , Perhari 1000 Orang Meninggal !!! Sebabnya Karena Ini

LAHANBERITA – India sejak sepekan terakhir dihantam badai wabah Covid-19 paling parah, bahkan lebuh buruk dibandingkan gelombang pertama. Selama 2 hari berturut-turut, yakni Kamis dan Jumat (22-23/4/2021), negara itu mencatat penambahan harian kasus infeksi yang bukan hanya mencapai rekor nasional, tapi internasional. Pada Kamis India mencatat penambahan 314.835 kasus infeksi virus corona dan sehari kemudian 332.730 kasus. Angka itu melampaui rekor global penambahan harian sebelumnya yang dicapai Amerika Serikat pada Januari 2021, yakni 297.340 kasus.

India Kewalahan Hadapi Kematian akibat Covid-19, Warga Kremasi Kerabat di Lapangan Terbuka Lonjakan ini jelas memukul layanan kesehatan negara dengan populasi terpadat kedua di dunia itu, di mana rumah sakit kehabisan tempat tidur dan langkanya oksigen, obat-obatan, serta alat pendukung medis lainnya. Para pasien di rumah sakit Ibu Kota New Delhi terpaksa dibaringkan di luar rumah sakit karena menunggu antrean, meskipun kondisi mereka kritis.

Total dari warga negara India yang memasuki Indonesia tersebut sejumlah 127 orang dan 12 orang di antaranya terbukti positif COVID-19.

Adapun kronologi bagaimana akhirnya ke-127 WN India akhirnya berhasil masuk Indonesia, dimulai pada hari Rabu kemarin.

Pesawat Air Asia dengan kode penerbangan QZ988 dari Chennai, India memboyong para penumpang tersebut ke bandara Soekarno Hatta.

Dirjen Imigrasi Jhoni Ginting menjelaskan secara rinci siapa saja warga India tersebut.

“Mengangkut 129 penumpang, adapun uraian daripada para penumpang tersebut bisa saya jelaskan sebagai berikut, yang pertama pemegang visa kunjungan WN India itu ada 38 orang, pemegang KITAS WN India 46 orang, pemegang KITAS WN Amerika Serikat 1 orang, pemegang KITAS WN India 32 orang, WNI 12 orang, kru 11 orang semua WNI,” sebut Jhoni.

Demi mengetahui varian corona di kedua belas warga negara India ini, mereka juga telah diambil sampel whole genome sequencing.

Indonesia Putuskan Setop Visa WNA dari India Di New Delhi satu orang meninggal setiap 5 menit. Tidak semua yang meninggal sudah menjalani tes Covid-19 untuk memastikan apakah mereka positif atau tidak, namun mengalami gejala yang mirip. Beberapa dari mereka harus menunggu beberapa jam di troli. Ada pula yang tak bisa bertahan, seperti dialami pasien Shayam Narayan yang meninggal saat mengantre.

situs bandar judi slot online

Parahnya Wabah Covid di India, Media Sosial Dipenuhi Jeritan Minta Tolong Shayam tentu tidak dimasukkan dalam data orang meninggal akibat Covid karena belum dites. Ironisnya, data resmi korban meninggal akibat Covid berbeda dengan kenyataan di lapangan di mana krematorium harus bekerja 24 jam nonstop, termasuk pemakaman. Itu belum termasuk warga yang mengkremasi jenazah anggota keluarga mereka secara mandiri di lapangan. “Sistem ini telah ambruk,” kata Raj, adik Shayam, dikutip dari Reuters, Sabtu (24/4/2021).

India mencatat sebanyak 300.000 kasus baru Covid-19 pada Sabtu (24/04) sehingga jumlah kasus secara keseluruhan di negara itu mencapai 140 juta sejak pandemi dimulai tahun lalu.

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan bahwa “kasus-kasus dan kematian terus meningkat pada laju yang mengkhawatirkan”.

Dia menambahkan, “secara global, jumlah kasus baru per pekan hampir berlipat ganda selama dua bulan terakhir”.

Seorang keluarga pasien, Tushar Maurya, mendesak orang yang belum mengalami kondisi serius untuk tidak dibawa ke rumah sakit. Ini karena fasilitas medis sangat terbatas. “Staf melakukan yang terbaik tapi tidak ada cukup oksigen,” katanya. Stasiun televisi India Today merekam keluarga pasien yang mengamuk di luar rumah sakit di Ahmedabad, Gujarat. “Orang-orang sekarat di depan rumah sakit, mereka harus menunggu ada tempat tidur,” kata seorang pria. Pemuda lain menumpahkan kemarahan kepada pemerintah yang dianggap tidak peka dengan kondisi. “Inikah alasan kami memilih pemerintahan saat ini? Saat kami butuh, justru harus sendirian. Kemana orang miskin harus pergi,” ujarnya.

Pakar kesehatan mengatakan, lonjakan kasus Covid-19 di India dipicu kelengahan saat musim dingin lalu. Saat itu penambahan kasus infeksi berada di kisaran 10.000 orang per hari, angka yang dianggap terkendali. Pemerintah pun mencabut pembatasan sehingga warga lalai dari penjagaan, termasuk menghadiri acara-acara keramaian tidak menjaga jarak dan tidak mengenakan masker. Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi menghadapi kritik karena mengizinkan kampanye politik dan festival agama Hindu. Jutaan orang melakukan ritual mandi di Sungai Gangga.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed