oleh

Agar Bisa Pulang saat Lockdown, Pria Tua Ini Berpura-pura Jadi Mayat

JAKARTA- Pandemi Corona telah membuat banyak pemerintah negara memberlakukan lockdown atau penguncian. Lockdown atau penguncian sendiri merupakan salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus tersebut. Namun dengan adanya aturan tersebut, tak sedikit orang yang terpaksa jadi harus terpisah sementara waktu dengan keluarganya karena terjebak dalam suatu wilayah dan tak bisa bepergian.
salah seorang pria yang berasal dari India bernama Hakim Din, juga harus merasakan pengalaman terpisah dari keluarga akibat lockdown di negaranya. Pada saat pemerintah India memutuskan untuk memberlakukan lockdown, pria 70 tahun itu kebetulan sedang dirawat di sebuah rumah sakit yang berjarak cukup jauh dari tempat tinggalnya.

Hakim dirawat di rumah sakit yang jaraknya ratusan kilo dari rumahnya di Poonch, karena cedera kepala ringan yang dialaminya. Melihat sang kakek sendirian dan jauh dari keluarga, salah satu sopir ambulans di rumah sakit tersebut pun merasa kasihan. Sang sopir menyarankan Hakim untuk berpura-pura meninggal agar bisa kembali pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarganya.

Tak Disangka Saran dari supir ambulans itu pun diikuti oleh Hakim. Hakim bersama tiga orang temannya yang sangat merindukan keluarga dan rumah sepakat untuk berpura-pura menjadi mayat dengan dibantu oleh supir ambulans tersebut. Sang supir lah yang membuatkan laporan palsu yang menyatakan bahwa Hakim dan ketiga orang temannya sudah meninggal.

situs bandar judi slot online

Akhirnya Hakim dan tiga orang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ambulans dan berbaring di balik kain putih, seperti layaknya orang yang sudah meninggal. Awalnya perjalanan mereka lancar tanpa hambatan dan berhasil melewati beberapa pos pengamanan yang dijaga oleh polisi.

Namun sayangnya, ketika sampai di pos pengamanan terakhir, ambulans itu diberhentikan. Para ‘mayat’ itu pun diperiksa, yang kemudian mengakibatkan penyamaran mereka terbongkar. Karena aksinya itu, para pelaku akhirnya ditangkap dan dikarantina secara terpisah. Mereka dituntut atas tuduhan manipulasi dan menentang larangan pemerintah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed